Cinta Terpisah Jarak

“Mbaknya ndak pulang?” pertanyaan ibu tukang sayur itu membuat saya kaget. Dengan sedikit berpikir, “insyaAllah minggu depan Bu”, jawab saya singkat.

Sudah dua kali ibu tukang sayur itu menanyakan perihal istri saya, padahal beliau belum pernah bertemu dengan istri saya. Mungkin beliau tahu, saya sedang tinggal sendirian di rumah kontrakan, dan setiap hari Sabtu atau Minggu pagi sering melihat saya belanja sendirian di perempatan tidak jauh dari tempat saya tinggal, yang tidak lain adalah tempat ibu penjual sayur dan beberapa penjual lain mangkal, menggelar dagangannya. Setelah mendapat sepotong tempe seharga dua ribu rupiah dari ibu tukang sayur itu, saya pun kembali ke rumah.

Semenjak menikah akhir Desember 2013, saya tinggal sendirian di rumah kontrakan yang berada di salah satu wilayah sebelah utara Kota Malang. Pernah seminggu setelah menikah, istri menyempatkan tinggal di rumah kontrakan yang pada waktu itu baru kami sewa. Namun, hanya beberapa hari saja, dan setelahnya kembali ke Jakarta untuk menunaikan tugasnya sebagai abdi negara di salah satu instansi pemerintah. Dan kini rumah kontrakan yang luasnya sekitar 80 meter persegi itu, saya tempati bersama beberapa kawanan semut, kecoak, dan juga cicak.

mlg-jktMenjalani kehidupan rumah tangga dengan tanpa istri di sisi, tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Terasa sangat berat. Ya, berat menahan rasa rindu. Komunikasi hanya sebatas perbincangan lewat SMS dan telepon, tanpa bisa menatap wajah satu sama lain. Maklum, handphone kami belum dilengkapi fasilitas video call. Dengan komunikasi yang demikian, terkadang timbul konflik-konflik kecil sebab adanya perbedaan persepsi dan kesalahpahaman. Meski sebenarnya kedua sebab itu bisa dihindari atau setidaknya diminimalisir, apabila wajah bertemu wajah, mata bertemu mata, saling menatap, saling memandang.

Bertemu langsung, biasanya kami lakukan dua atau tiga minggu sekali, menyesuaikan waktu. Itu pun dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena jarak perjalanan yang lumayan jauh, Malang – Jakarta. Terkadang bertemu di Mojokerto tempat asal istri; di Madiun tempat asal saya; dan kadang di Malang atau di Jakarta tempat kami tinggal. Itulah bagian dari perjalanan hidup kami.

Istri pernah bercerita, bahwa rekan kerjanya juga menjalani kehidupan rumah tangga yang hampir sama, sang suami ditugaskan di Papua, dan sang istri berada di Jakarta. Satu-satunya moda transportasi yang efektif digunakan adalah pesawat terbang. Coba bayangkan, jika harus bertemu setiap dua atau tiga minggu sekali, tentu lebih banyak biaya yang harus dikeluarkan.

Kehidupan mereka tentu lebih menantang dibandingkan apa yang kami jalani. Sehingga kami berusaha untuk selalu bersyukur dan bersabar. Bersyukur, Allah masih memberi kemudahan dan pertolongan, dalam wujud kesempatan, kesehatan, tenaga dan juga biaya sehingga kami bisa bertemu dua atau tiga minggu sekali, bisa berbincang melalui telepon, dan wujud kemudahan-kemudahan lain. Bersyukur, keadaan yang kami jalani masih lebih mudah, dibandingkan dengan yang dialami oleh orang lain.

Tentu yang sulit adalah sabar; sabar dalam menahan kerinduan, dalam memperjuangkan kebersamaan. Ketika rindu sudah menggebu, atau apalah istilahnya, kadang-kadang fikiran menjadi tidak fokus, linglung, galau, dan keluhan-keluhan lain yang semisal. Saya yakin anda juga pernah merasakan yang demikian. Atau saya saja yang terlalu berlebihan alias lebay? Ah, itu tidaklah penting. Nah, pada kondisi yang demikian, istri selalu meminta saya untuk bersabar, dan sebaliknya.

Lima bulan pernikahan adalah usia yang masih sangat muda, belum apa-apa. Masih panjang jalan kehidupan yang (insyaAllah) harus dilalui bersama. Terpisah jarak adalah bagian dari perjalanan hidup itu. Ketidakmampuan mata untuk selalu saling menatap, saling memandang, bukanlah alasan untuk tidak selalu menumbuhkan cinta, menumbuhkan kerinduan di dalam jiwa. Seperti pepatah, (meski) jauh di mata, (harus selalu) dekat di hati.

Dan penggalan puisi ini, adalah wujud rindu yang sedang menggebu:

Rindu..

adalah kesabaran kemarau

yang takzim menunggu rintik hujan

 

tapi rindu bagiku

adalah saat menatap matamu

dan aku bermain-main di dalamnya*

Salam,

*Puisi karya Yuni Astuti (Anggota Komunitas Bisa Menulis). Dikutip dalam buku Catatan Hati Pengantin karya Asma Nadia, Isa Alamsyah, dkk.

Advertisements

10 thoughts on “Cinta Terpisah Jarak

    • Irfan Andi May 26, 2014 / 7:47 am

      hehe, tp kan fasilitas internetnya lemot, 😀

  1. Taufiq_Qipot June 21, 2014 / 4:41 pm

    Apalagi saya yang belum jelas jaraknya sejauh mana…

    • Irfan Andi July 3, 2014 / 5:14 am

      Sejauh kedekatanmu dg urat lehermu,,hihi

  2. Yan May 3, 2015 / 7:25 pm

    Assalamualaikum mas andi. lg browsing ttg nomor sdh hangus digunakan org lain. di google nemuin ini https://irfanandi08.wordpress.com/2011/03/11/ada-apa-dengan-nomor-hp-saya/ trnyata blognya mas Andi 🙂
    Terus gmna mas skarang masih LDR kah? smoga Allah memberikan jalan terbaik, selalu memberi rahmat dan melindungi mas Andi sekeluarga. Aamiin…
    jaman sekarang kayaknya ga sedikit suami istri yang mngalami LDR. suami istri sama2 bekerja n berkarir. Jadi inget yang ngekos di rumah bapak saya. Kos putra, kebetulan semua yang ngekos sdh berkeluarga. Mereka kerja di kota ini tapi keluarga tinggal di kota lain. setiap weekend mereka pasti pulang ke rmh masing2. pdhl jaraknya jauh2. Sejauh apapun jarak itu akan mereka tempuh untuk bisa berkumpul dgn keluarga masing2 🙂

  3. kezedot May 23, 2015 / 7:06 pm

    baca tulisan ini aku jadi rindu sama sang rindunya bloger sahabatku.ehheh

  4. Asop November 19, 2015 / 11:55 am

    Tuh kan saya ketinggalan berita buanyaaaak sekali. Mas Irfan udah nikah. Waaaah 😀
    Ini beneran ta rek, postingan ini tahun 2014? Belom update? Hahahaha 😀

    • Irfan Andi November 19, 2015 / 12:14 pm

      sengaja belum saya update, nunggu kang Asop kembali.. hihi, 😛

      • Asop November 19, 2015 / 12:21 pm

        Yo wis ayo update hahahaha 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s