Ramadhan dan Teror Mercon

Sebuah mercon meledak di depan salah satu masjid di Kota Malang. Jamaah masjid yang baru saja menyelesaikan sholat tarawih berhamburan keluar. Tampak seorang anak berusia belasan tahun mengerang kesakitan. Telapak tangannya berdarah, dan terkena luka bakar. Diduga anak tersebut adalah pelaku peledakan.

Beberapa menit kemudian, tim Densus 88 Antiteror datang ke lokasi kejadian. Dengan dibantu tim Gegana Polri, mereka mengamankan lokasi kejadian, memeriksa dan mencari sisa-sisa mercon yang belum sempat diledakkan.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan beberapa buah mercon jenis cabe rawit (lombok impling) yang berdaya ledak rendah, dan satu buah korek api. Tim Densus 88 Anti teror juga menangkap 3 orang anak yang diduga terlibat dalam upaya peledakan tersebut.

Menurut saksi mata yang tidak berkenan disebut namanya, peledakan mercon seringkali terjadi di depan masjid. Pelakunya tidak lain adalah anak-anak yang tinggal di sekitaran masjid. Jarang ada orang yang berusaha mengingatkan mereka untuk tidak melakukannya. Malahan, beberapa puluh meter dari masjid terdapat 3-4 penjual mercon dan sejenisnya. Penjualnya untung, pelakunya buntung.

#BERITA #IMAJINER

Bagi sebagian orang, suara ledakan mercon sangat mengganggu telinga mereka. Sedangkan bagi sebagian orang yang lain, suara tersebut adalah hal biasa, apalagi di bulan (suci) Ramadhan. Ramadhan tidak lengkap rasanya tanpa menyalakan mercon. Tetapi jika akibatnya seperti kejadian di atas, siapa yang bertanggung jawab?

Dulu waktu kecil, saya dan teman-teman di desa, tentu tidak berbeda dengan anak-anak kecil jaman sekarang yang suka menyalakan mercon (petasan); mulai dari mercon cabe rawit, mercon busi, dan juga mercon bambu (bumbung) buatan sendiri. Belinya pun terkadang diam-diam. Meskipun diperingatkan orang tua, tetap saja kita bandel. 

Sempat ada teman yang kehilangan kedua alis matanya gara-gara mercon. Pada waktu itu ia menuangkan bubuk mercon di atas lantai. Karena agak berserakan, ia berusaha mengumpulkannya dengan batang korek api bekas yang baru saja mati nyala apinya. Tanpa ia sadari, di batang korek tersebut masih terdapat sedikit bara api, dan apa yang terjadi akhirnya? Kedua alis matanya lenyap seketika (mungkin termasuk bulu mata), dan kedua bibirnya gosong keputih-putihan tersulut api dari bubuk mercon.

Kegemaran saya terhadap mercon tidak berlangsung lama. Semakin menginjak dewasa, semakin sadar bahwa hal itu tidak bermanfaat; malah akan merugikan diri dan orang lain.

Dari berita imajiner di atas, sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan, bahwa mercon sama halnya dengan bom tetapi memiliki daya ledak sangat kecil (very low explosive). Memang bahan pembuatannya sama sekali berbeda dengan bom. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan sebenarnya tidak jauh berbeda dari ledakan bom. Sudah banyak korban terluka, bahkan ada yang meninggal akibat ledakan mercon. (sebagai contoh, silahkan lihat di sini). Suara ledakan mercon menurut saya juga mengganggu/mengagetkan, apalagi dibunyikan saat orang sedang beristirahat, atau saat sedang beribadah.

Sudah seharusnya kita, khususnya yang memiliki anak-anak yang masih kecil untuk selalu mengingatkan mereka agar tidak lagi menyalakan mercon, apalagi di bulan mulia ini. Kepekaan mereka atas kesadaran untuk tidak mengganggu orang lain harus kita tanamkan sedari kecil, agar kelak saat dewasa mereka memahami hal itu. Tentu, mengandalkan pemerintah melalui aparat penegak hukumnya untuk memberantas keberadaan mercon rasa-rasanya mustahil. Kita hanya mampu menegur mereka yang membunyikan mercon dan seringkali mental, atau apesnya kita hanya bisa diam menggerutu seraya menutup telinga rapat-rapat agar suara ledakannya tidak terdengar.

Dan pada akhirnya, kita (terpaksa) mengakrabi suara-suara itu.

Salam.

Advertisements

4 thoughts on “Ramadhan dan Teror Mercon

  1. rusydi hikmawan August 2, 2013 / 10:53 am

    itu di berita sy tonton, ada anak yg sampe tangannya diamputasi karena rusak total. malah ada berita lain, pedagang tubuhnya terbakar karena bahan baku petasannya meledak. udah tahu berbahaya dan gak sesuai tradisi di indonesia, tapi petasan masih saja dibiarin ama pemerintah. dan warga muslim banyak juga yg beli. dari pada beli petasan, mending beli kopi. abis tadarusan kan enaknya ngopi

    • Irfan Andi August 2, 2013 / 1:23 pm

      nah, betul itu mas, 😀 sambil makan gorengan juga enak lho, 😀

  2. Ummu El Nurien August 19, 2013 / 10:18 am

    kemarin waktu saya pulang kampung, seorang ibu cerita.. beliau jadi tidak berdaya, dan tak bisa berbuat apa-apa selang beberapa jam.. jika mendengar bunyi-bunyian itu, alhasil dalam sebulan tiada hari tanpa tergoleng lemas,, andai anak-anak tau, betapa banyak kesehatannya terganggu akibat bunyi-bunyian itu..

  3. yuyu August 23, 2013 / 4:24 am

    anak2 perlu dibimbing orangtuanya, klo terjadi apa2 siapa lg yg disalahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s