Sendiri

alone-86927658987Di suatu resepsi pernikahan, istri salah seorang teman bertanya kepada saya, “Setiap kali ketemu, kok selalu sendiri?” Saya pun tertawa kecil.

“Bolak-balik dapat undangan, kapan ngasih undangan?” imbuh teman saya.

“Ya gantian lah,” jawab saya singkat seraya tersenyum miris.

Di antara teman sebaya, bahkan lebih muda daripada saya, kebanyakan dari mereka sudah tidak sendiri lagi, alias ada yang menemani hidup. Teman yang saya sebut di atas pun, telah dikaruniai tiga orang anak.

Sedangkan saya, sampai tulisan ini dibuat, masih berstatus ‘sendiri’. Dan ini adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri. Hehe.

Tetapi bukan ‘sendiri’ dalam arti lajang yang ingin saya maksud di sini. Tetapi ‘sendiri’ dalam arti benar-benar sendiri, tak ada satu jiwa pun yang menemani. Hanya amal yang menjadi teman sejati, demikian kata Opick dalam lagunya.

Ya, ‘sendiri’ dalam arti mati.

Pertanyaan dari istri teman di atas, mengingatkan saya tentang hakikat kesendirian.

Sendiri dalam arti mati; satu kondisi di mana tak ada satu pun makhluk hidup yang bisa diajak berbagi kata dan rasa. Mungkin ada binatang-binatang kecil yang menghampiri, hanya sampai pada jasad bahkan memasuki jasad itu, akan tetapi jiwa tetaplah sendiri. Sepi. Dan sekali lagi, benar kata Opick, hanya amal yang menjadi teman sejati; baik ataupun buruk.

Ada pula cerita manusia yang mengalami kesendirian sebelum kematiannya. Mungkin kita masih ingat, dengan seseorang yang ditemukan meninggal dunia di sebuah kebun, di tengah-tengah kota. Hanya tinggal kerangkanya saja. Orang tersebut memang tinggal sendirian di gubuk kecil di pinggiran kebun, dan kesehariaanya berburu burung di kebun itu. Matinya pun sendirian, tak ada orang lain yang menemani, hingga selang beberapa hari kerangkanya ditemukan. Sendiri dalam kematian, mati dalam kesendirian.

Ah, mengapa saya meracau sendiri?

Maaf, sederhananya saya hanya ingin menyampaikan, bahwa tiap diri akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.

Kemudian, apabila saat ini kalian masih ‘sendiri’, semoga segera ada yang menemani. Setidaknya ditemani sepi.

Perlu diketahui, saat membuat tulisan ini, saya sendirian di ruang kerja. Dan saya berharap, sepi ini menjadi ramai setelah menuliskannya.

Salam,

#sumber gambar dari sini
Advertisements

2 thoughts on “Sendiri

  1. arr rian June 21, 2013 / 4:41 pm

    postingan tidak konsisten, pertama bahas nikah. terus sendiri.
    Eh kok ujung2nya dibilang sendiri bukan artinya lajang gitu..
    Wkwkwkwkw….
    meracau nya sangat keren :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s