Hujan; dan Tentang Satu Rindu

Sore itu, hujan deras mengguyur kawasan kampus UB. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, saat dimana aktivitas kantor dihentikan. Tetapi masih banyak pegawai yang belum meninggalkan ruangan karena menunggu hujan reda. Di salah satu ruangan, seorang gadis mondar-mandir dengan sesekali menatap keluar jendela, memastikan apakah hujan sudah reda. Wajahnya tampak agak bingung.

“Gimana saya pulang?” lirihnya. Biasanya ia pulang bersama temannya, tetapi sore itu ia harus naik angkot. Dan untuk menunggu angkot ia harus berjalan ke gerbang depan kampus yang jaraknya lumayan  jauh.

Pak, bisa tukar uang?” tanyanya pada seorang lelaki yang duduk tidak jauh darinya . Di ruangan itu tinggal mereka berdua, sedangkan pegawai-pegawai yang lain sudah pulang terlebih dahulu.

Buat apa?” tanya lelaki itu.

Buat bayar angkot, uang saya tinggal ini.” jawab gadis itu seraya mengambil uang 50 ribuan dari dalam dompet.

“Masak nggak ada yang lain?” lelaki itu pura-pura tidak percaya.

Iya, tinggal ini aja” jawab gadis itu meyakinkan. Ia kemudian mengangsurkan dompetnya kepada lelaki itu berharap percaya bahwa uangnya tinggal 50 ribuan saja.

Lelaki itu iseng-iseng memeriksa dompet berwarna cokelat meskipun sebenarnya ia telah percaya akan apa yang dikatakan gadis itu. Sejenak ia buka-buka dompet itu, ia tidak mendapati uang lain selain uang 50 ribuan.

“Ini foto siapa?” tanya lelaki itu saat mendapati foto hitam-putih seorang wanita di dalam dompet itu.

“Itu foto ibu saya,” jawab gadis itu pelan.

Itu foto almarhum ibu saya, yang meninggal saat saya masih umur 2 tahun” lanjut gadis itu seolah menegaskan.

Yang diketahui lelaki itu selama ini bahwasannya gadis itu masih memiliki seorang ibu, yang biasa ia panggil Mama. Keterangan singkat yang baru saja ia terima membuatnya tersadar bahwa sebenarnya ibu kandung gadis itu telah tiada. Gadis itu ditinggal oleh ibunya sejak usia 2 tahun, usia yang masih sangat kecil untuk bisa mengenali sosok orang tuanya, khususnya ibu yang telah melahirkannya.

Keduanya terdiam, setelah lelaki itu mengembalikan dompet dan menjawab bahwa ia tidak memiliki uang kecil untuk ditukar.

Gadis itu duduk di kursinya seraya menatap ke arah jendela; seolah-olah seperti menyaksikan tayangan hujan di layar televisi. Entah apa yang dipikirkannya. Tetapi raut mukanya yang tampak sedih menggambarkan kerinduannya akan sosok ibu kandungnya yang telah belasan tahun meninggalkannya. Tak biasanya ia beraut wajah seperti itu, karena gadis itu biasanya terlihat ceria penuh tawa dan banyak bicara. Entah, apakah ia juga menangis di hatinya seperti derasnya hujan kala itu. Menangis karena mengingat sosok ibunya yang telah tiada; sebuah ingatan yang tidak didasarkan pada penglihatan sosok sebenarnya, melainkan sebab ikatan yang terjalin sejak dalam kandungan. Setidaknya, begitulah lelaki itu beranggapan, sebab ia bisa merasakan.

Terngiang sebuah lirik lagu tentang ibu di pikiran lelaki itu. Sebuah lagu yang pernah dilantunkan oleh Opick bersama Amanda, Satu Rindu:

Hujan kau ingatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu

Hujan masih saja mengguyur. Lelaki dan gadis itu pun masih terdiam, seolah menikmati tetes demi tetes air hujan yang berada di luar sana. Hingga seorang pegawai yang lain masuk ke dalam ruangan dan menawarkan diri menyertai gadis itu menuju gerbang depan. Gadis itu akhirnya pulang setelah sebelumnya berpamitan kepada lelaki itu.

Hening. Tinggallah lelaki itu seorang diri, menatap ke arah jendela menyaksikan tontonan hujan; hanya menyaksikan, dan matanya ikut basah.

“Ibu, sedang apa engkau di sana?” lirihnya.

SELAMAT HARI IBU

Salam,

Advertisements

16 thoughts on “Hujan; dan Tentang Satu Rindu

  1. Faye December 30, 2011 / 8:28 pm

    bagus mas, pas banget saya lagi kangen pulang ke rumah 😦

    • Irfan Andi January 3, 2012 / 3:57 pm

      😦 sy jg kangen rumah,,hiks..

  2. veera December 30, 2011 / 11:42 pm

    speechless. bener.
    ibuku… juga mungkin lagi bareng ibu gadis itu… 😦
    dan cuma bisa ngirim doa buat bilang hari ibu …

    *btw, maap kunjungan baliknya telat*

    • Irfan Andi January 3, 2012 / 3:58 pm

      Semoga Ibunya mbak Veera beroleh tempat yg terbaik di sisi-Nya, Aamiin ya Rabb,, 😥

  3. Zippy January 3, 2012 / 12:31 am

    Dalem banget mas postingannya.
    Merinding gini bacanya 😦
    Ibu emang sosok yang paling berharga deh 🙂

    • Irfan Andi January 3, 2012 / 3:59 pm

      Terimakasih Mas,,terimakasih jg buat seluruh ibu di dunia,, 🙂

  4. kang nur January 12, 2012 / 3:53 pm

    merindukan orang yang sudah tiada…

    • Irfan Andi January 26, 2012 / 2:46 pm

      Semoga ia bahagia di sisi-Nya..

    • Irfan Andi January 26, 2012 / 2:46 pm

      kisah nyata Mbak, sedikit dirubah. 🙂

  5. achoey el haris January 20, 2012 / 11:17 am

    Hujan membuatmu romantis. Dan memang bagiku pun hujan seringkali membuahkan rindu 🙂

    • Irfan Andi January 14, 2013 / 4:21 pm

      Allahumma aamiin, selalu panjatkan doa buat beliau mbak, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s