Hidup Saling Melengkapi

“Saya ndak punya kepandaian, jadi hanya bisa bekerja seperti ini,” kata seorang tukang becak di hadapan saya, saat ia mampir di warung tempat saya makan. Baru saja ia mengantarkan lemari baru milik tetangga, dan mampir di warung. Emak, si empunya warung tak lain adalah saudara iparnya. Dari perkataannya, nampak ia berusaha membandingkan profesinya dengan profesi saya.

“Lha, kalau tidak ada tukang becak, lantas siapa yang akan mengantarkan orang?” jawab saya sederhana.

Sahabat, barangkali kita temasuk orang yang suka mengeluh dengan profesi kita. Tidak jarang kita membanding-bandingkan profesi kita dengan profesi orang lain. “Kok dia lebih beruntung ya..” gumam kita dalam hati. Sst, jangan-jangan orang lain tersebut juga membandingkan profesinya dengan profesi kita. Dia juga merasa kalah dengan kita. Ups, berarti saling membandingkan donk!

Yah, sebenarnya boleh saja kita membandingkannya, asal bukan menjadi bahan untuk kita mengeluh, merasa kalah nan tidak berguna. Melainkan, semakin membuat kita lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik. Sementara, diri dan profesi kita saat ini adalah satu bagian yang harus disyukuri keberadaannya. Coba bayangkan, kalau saja kita tidak ada di lingkungan kita saat ini. Wah, pasti suasananya akan aman, tentram, dan damai. Hehe.. Itu kalau kita bukan termasuk orang yang baik. Tapi kalau kita termasuk orang yang selalu berusaha berbuat baik (bukan merasa baik lho ya..) pasti keberadaan kita akan selalu dibutuhkan.

Sama halnya dengan tukang becak di atas, meskipun hanya sebatas tukang becak, selama ia membecak dengan baik, pasti keberadaannya akan dibutuhkan orang lain. Coba bayangkan lagi, jika tidak ada tukang becak, siapa yang akan mengantarkan orang pulang dari pasar? ya bisa aja tukang ojek, dokar, angkot, bis, dan sebagainya. hehe.. Maksud saya, keberadaan tukang becak tetap dibutuhkan oleh masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya.

Di sisi lain, kita tidak sepatutnya meremehkan tukang becak, atau profesi lain yang semisal dengannya. Kebanyakan dari kita cenderung meremehkan mereka; tukang sampah, tukang sapu, tukang parkir, satpam, dan profesi-profesi kecil lainnya. Maaf, saya tidak bermaksud meremehkan mereka dengan sebutan ‘profesi kecil’, karena yang saya tahu gaji mereka memang kecil. Tukang sampah di tempat saya tinggal sekarang, digaji hanya Rp. 150.000/bulan. Besar atau kecil?

Atau satpam di kampus tempat saya bekerja, digaji Rp. 1.050.000/bulan. Besar atau kecil? Ya memang jauh lebih besar dibanding tukang sampah tadi. Itu pun terkadang masih mendapat bonus perlakuan tidak mengenakkan dari pembesar-pembesar di kampus.

“Kamu tidak kenal siapa saya?” bentak Profesor saat ditanya oleh satpam kampus.

“Karena saya tidak tahu, makanya saya nanya,” jawab satpam dengan entengnya.

Hey, ini nyata, seorang satpam kampus pernah bercerita kepada saya. Bagaimana perasaan kita seandainya kita berada pada posisi satpam tersebut? sakit hati kan? Menjadi orang besar, bukan berarti harus merasa besar dan boleh meremehkan yang kecil. Karena besar dan kecil adalah dua kata yang saling melengkapi. Demikian juga dengan kaya dan miskin. Keduanya harus saling melengkapi. Juga antara laki-laki dan perempuan, pun harus saling melengkapi. *ndaknyambung

Lantas, siapa kira-kira yang kelak melengkapi hidup saya?? hehe.. 😉

Salam,

Advertisements

53 thoughts on “Hidup Saling Melengkapi

  1. Irfan Handi October 10, 2011 / 8:18 am

    dari tukang becak, tukang sapu, profesor, sampe security….
    eh ujung-ujungnya pasangan hidup. namun banyak hikmah disini. tengkyu.
    Ane do’ain agar dimudahkan jodohnya sodaraku. Amin…

    • irfanandi October 17, 2011 / 4:03 pm

      Aamiin,, terimakasih.. 🙂

  2. bensdoing October 10, 2011 / 8:22 am

    tanpa “sesuatu” kt tdk dapat menjadi “sesuatu” pula….
    trims atas pencerahannya di pagi ini…..
    salam kenal ya….!

  3. bundadontworry October 10, 2011 / 8:38 am

    karena manusia adalah makhluk sosial, makanya kita akan tetap saling membutuhkan satu sama lain, gitu khan Irfan ?

    utk paragraf terakhir,
    bunda mendoakan agar segera diberikan pendamping hidup yg baik di dunia wal akhirat ,aamiin
    salam

    • irfanandi October 17, 2011 / 4:05 pm

      bener Bunda, 🙂 terimakasih atas doanya..

  4. Cak Bas October 10, 2011 / 9:58 am

    bersyukur dengan yang kita miliki,,,,

  5. Danu Akbar October 10, 2011 / 1:34 pm

    Besar kecilnya manusia bukan diukur dari profesi. Tapi diukur dari panjang, lebar dan berat badannya.. Wkwkw.. Becanda. 🙂

    Mau kita jadi tukang becak, satpam, professor, sama aja. Itu kan cuma sementara. Jangan bangga dengan kehebatan kita, masih banyak yang lebih hebat dari kita, bahkan orang yang kita anggap lebih rendah dari kita sekalipun. 🙂

  6. ahsinmuslim October 10, 2011 / 2:17 pm

    setiap dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. maka sudah seharusnya kita saling menghargai dan melengkapi.

  7. volverhank October 10, 2011 / 3:57 pm

    sedih juga ya jadi kalaucalon dokter, kelak akan di hidupi orang yang sakit. tapi mau gimana lagi , kan tujuanya nyembuhin orang jg

    • irfanandi October 17, 2011 / 4:13 pm

      asal ikhlas pak dokter, 😀

  8. fi October 11, 2011 / 6:41 am

    “Lantas, siapa kira-kira yang kelak melengkapi hidup saya?? hehe.. ”
    saya jawab : insya ALLAH seorang wanita mas, hehe.. peace

    • irfanandi October 17, 2011 / 4:15 pm

      bisa aja, peace jg.. 🙂

  9. Mbah Jiwo October 11, 2011 / 7:51 am

    Itu profesor lagi melayang2 di atas pikirannya sendiri, merasa dengannya ia merendahkan orang lain…

    Betul kata sampeyan mas, apapun posisi kita, kita sama… sebagai manusia yang punya hati…

    • irfanandi October 19, 2011 / 8:47 pm

      iya Mbah, saatnya memanusiakan manusia.. 😀

  10. Ditter October 12, 2011 / 9:33 pm

    Nyeeeeeh…. gaji tukang sampah itu sedikit banget. Gimana caranya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari… pastinya punya pekerjaan di bidang lain juga itu, ya….

    Wah, kalo nggak ada tukang becak, ane kesusahan, nggak bisa jalan2 sore cari angin naik becak, hehe….

    • irfanandi October 19, 2011 / 8:50 pm

      Dari memungut sampah, dia bisa mendapat barang2 bekas, jika dijual hasilnya lbh besar dr gaji yg didapat..
      Cari angin dimana ya.. 😀

  11. fidian October 13, 2011 / 8:48 am

    tetangga sebelah kale yang melengkapi bro…. ^_^

    • irfanandi October 19, 2011 / 8:53 pm

      Siapa..siapa.. *clingakclinguk

  12. Asop October 14, 2011 / 9:37 am

    Benar sekali.
    Pokoknya nikmati saja pekerjaan yang kita lakukan saat ini.
    Ingat, kita sendirilah yang membentuk takdir hidup ini. Hanya kita manusia yang bisa mengubahnya.

  13. 3snainc October 14, 2011 / 9:51 am

    Setuju bangetttttttt… saling melengkapi… dan gak perlu malu dengan profesi diri sendiri walau kelihatannya gak keren… 😀

    Dulu eyang saya pernah ngasih nasihat ke cucu2nya.. gak usah cari tahu berapa besar gaji orang lain walaupun itu saudara kandung/teman baikmu… karena menurut pengalaman semua orang biasanya membesar2kan gaji mereka supaya kelihatan profesinya hebat… padahal dibalik itu semua banyak tunjakan dan hutang bejibun… otomatis bukan menghasilkan uang banyak, tapi bekerja banyak supaya dapat uang banyak untuk nutupin hutang besar…

    intinya, ngapain cari tahu isi perut orang, kalo udah bikin kita stress karena membanding2kan, eeeh… taunya, hidup dia juga enggak bahagia2 amat 😛
    dari situ kita gak peduli lagi dengan profesi yang kelihatan canggih… semua jenis pekerjaan sama2 memikul tanggung jawab yang besar dan sama2 dibutuhkan di dunia ini…

    btw… Saya jauh lebih respek kepada si tukang becak itu karena masih mau bekerja keras banting tulang ketimbang jadi pengemis…

    • irfanandi October 19, 2011 / 9:06 pm

      “semua jenis pekerjaan sama2 memikul tanggung jawab yang besar dan sama2 dibutuhkan di dunia ini…” suka dg kutipan ini. 🙂

  14. nandobase October 16, 2011 / 3:45 pm

    Waduh, cerita panjang lebar tentang level profesi, ternyata intinya lagi nyari calon pendamping hidup, ya. Hehehe…. boleh juga idenya, tuh. *dicatat* 🙂

    • irfanandi October 19, 2011 / 9:08 pm

      intinya ttp masalah saling melengkapi,,hehe
      nyatat apa Mas? 😉

  15. Ejawantah's Blog October 19, 2011 / 4:17 am

    Hidup merupakan proses perjalan seorang insan yang penuh dengan pembelajaran dari soko guru kehidupan.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawanatah’s blog

    • irfanandi October 19, 2011 / 9:10 pm

      Sukses jg Mas,,mari saling belajar.. 🙂

  16. dede6699 October 19, 2011 / 11:42 am

    luarbisa…malah trkdng bhkn sering bndingin sm orng lain..knpa yh sy bgni..hehee.. Tp klo kt pandai mnsykuri ht tnang..bda dg seblik’a.. Saling mlngkapi untuk happy…hehe..

  17. rusydi October 21, 2011 / 2:48 pm

    sukurnya saya gak pernah takut ama orang2 yg dikatakan orang memiliki jabatan dll, saya hanya hormat ama mereka. takut? gak lah.

  18. sheno monkey October 23, 2011 / 8:49 am

    selama kita bisa belajar bersyukur insya Allah cukup dan saling melengkapi :3

  19. kang nur October 23, 2011 / 10:02 pm

    Itulah letak keadilan Allah, manusia diciptakan berbeda-beda.

  20. sheno monkey October 25, 2011 / 11:22 am

    lagipula kalau semua orang kaya dan mapan nanti ga akan hidup untuk saling membutuhkan dong 😀 makanya si kaya harus lebih peka.

  21. Anugrha13 October 27, 2011 / 9:59 am

    kalo mau bicara cukup atau tidak cukup, sudah kodrat manusia selalu merasa tidak pernah cukup…kalo saya mah yang penting berkah….hehehe

  22. Abed Saragih October 28, 2011 / 11:31 am

    Kunjungan lagi ke blog ini… hehehe 🙂
    ditunggu kunjungan dan komentar baliknya 🙂
    salam persahabatan 🙂

  23. baju wanita November 3, 2011 / 4:14 pm

    menarik tulisan anda ini…salam kenal yaaa

  24. Darmanto Muat November 7, 2011 / 8:23 am

    kata orang jawa mas, “sawang-sinawang” artinya kadang kita melihat orang lain itu bahagiaaaaa banget, kita pun pingin kaya orang itu..tetapi orang itu ngeliat kita bahagiaaaaa banget dan orang orang itu pun pingin kaya kita.. nah, intinya..disyukuri apa yang ada pada kita..tetap berusaha untuk yang terbaik..

    salam,
    kayaknya kita satu kantor mas, di UB kan..? mampir dah ke Gedung Matematika.. kopdar hehe

    oh ya ntuk cerita satpam itu..rame lo di mailing list.. cekcok satpam-dosen,, dan saya pun hanya bisa degel-degel..geleng-geleng kepala saja..

    • Irfan Andi November 10, 2011 / 12:13 pm

      Mas Darmanto dosen ya.. 🙂 mari ketemuan..
      Wah, sy baru tahu klo ada cekcok di mailing list.. biarlah, kita nonton aja. hehe

      • Darmanto Muat November 10, 2011 / 4:42 pm

        tiittttt…sensor dong..??!!!
        mari no hp saya: 085649987722 monggo jika berkenan kita ketemuan.. UKHDAR (ukhuwah darat) hehe.. 🙂

      • Irfan Andi November 10, 2011 / 6:38 pm

        InsyaAllah.. 🙂
        Adakah akun FB, YM, or yg lain Mas??

  25. Darmanto Muat November 11, 2011 / 8:13 am

    ada, cari aja di FB, darmanto muat, insya Allah keluar.. 🙂

  26. diananeeh November 14, 2011 / 1:07 pm

    saya pernah ditegur, dimarahi lebih tepatnya sama salah seorang direktur keuangan perusahaan x, padahal kesalahan berada dipihaknya, kok malah saya yang dimarahi,,,,(kok jadi curhat y?)

    yah, besar kecil penghasilan, tinggi rendah jabatan, itu ga masalah mas, yang penting ketaqwaan kita dengan Allah, sikap kita mencerminkan segalanya, ya toh???

    Salam kenal, ^_^

  27. nazhara November 30, 2011 / 2:03 pm

    Intinya bersyukur ya. apapun pekerjaan kita. 😀

  28. miyosi chan December 13, 2011 / 7:35 am

    hehe
    nice posting 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s