Satu Mitos Seputar Gerhana

sumber gambar: lihat di bawah tulisan

“Bulane sampe entek dipangan grahono”

Begitu kira-kira yang dikatakan emak* pagi tadi, saat saya bertanya tentang fenomena gerhana bulan semalam. Bulannya habis dimakan gerhana; itulah anggapan emak dan mungkin sebagian orang juga berpikiran sama. Memang, menurut sebagian orang, peristiwa gerhana bulan terjadi disebabkan karena bulan dimakan oleh sesuatu makhluk, atau orang biasa menyebutnya butho ijo.

Tentu bagi kita yang pernah belajar Ilmu Pengetahuan Alam tentang benda-benda langit akan berbeda melihat fenomena gerhana bulan. Sebagaimana yang kita ketahui, gerhana bulan terjadi saat bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi. Jadi bukan dimakan butho ijo atau saya makan. hehe..

Emak juga menyebutkan, jika ada wanita hamil lantas tidak mempedulikan adanya gerhana bulan, kelak saat anaknya lahir akan mengalami kegranan, cacat dibagian tubuhnya; entah tangannya hilang, atau telinganya putus dan lain-lain. Tubuh anak tersebut krowak alias hilang akibat digigit/dimakan seperti krowak-nya bulan yang sedang gerhana.

Yang dimaksud mempedulikan gerhana di sini adalah melakukan ritual yang pernah diajarkan secara turun temurun dari nenek moyang, yaitu duduk di pekarangan rumah–sekali lagi bagi wanita yang hamil–sambil makan dan menyaksikan gerhana bulan. Entah, saya sendiri juga kurang paham dengan ritual ini beserta maksud dilakukannya. Barangkali di daerah lain juga memiliki ritual-ritual serupa atau bahkan berbeda saat terjadi gerhana bulan.

Lantas, apa yang harus dilakukan saat gerhana bulan? bagi umat muslim ada syariat untuk melaksanakan sholat khusuf. Apakah sholat khusuf itu? silahkan dipelajari sendiri dengan fasilitas yang telah disediakan, hehe..

Pastinya, gerhana bulan adalah salah satu fenomena alam yang menunjukkan ke-Maha Kuasa-an Allah sang Pencipta alam semesta. Juga fenomena alam yang telah melahirkan suatu mitos di masyarakat; apakah kita akan meyakini mitos tersebut dan melakukan ritual yang terkait dengannya ataukah tidak, itu pilihan kita masing-masing. Bagaimana dengan anda?

Salam,

*wanita  paruh baya yang biasa menyediakan saya makanan setiap hari. Tempat tinggalnya berada persis di depan kontrakan.

_____

sumber gambar diambil dari sini 
Advertisements

11 thoughts on “Satu Mitos Seputar Gerhana

  1. Asop June 17, 2011 / 3:20 pm

    Mari sholat gerhana. 🙂

  2. Taufiq_Qipot June 24, 2011 / 6:36 am

    ane liat habis Subuh kok nggak ada apa2 ya?

  3. dhila13 June 28, 2011 / 10:40 am

    yap.. ritual yg baik dan dianjurkan secara sunnah adalah bertakbir dan Sholat Gerhana. 🙂

  4. Erlin Fitriyanti June 30, 2011 / 7:50 pm

    Tanya,,cara buat gambar-gambar dibawah tulisan “menulis itu sederhana ” kayak gimana 🙂

    • irfanandi July 3, 2011 / 7:49 am

      gambar yg mana tho,,sy kok gak paham.. hehe..

  5. Cak Bas July 1, 2011 / 2:09 pm

    katanya dulu, ‘bulane di pangan buto’
    buto dari mana, makan bulan segede itu.

    mas irfan, semakin mencerdaskan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s