Kesederhanaan Cinta

Tidak sedikit di antara manusia, ketika hatinya dilanda cinta, cinta kepada lawan jenisnya, selalu memposisikan cinta dan orang yang dicintainya pada tempat istimewa. Perasaan jiwanya menggelora, menggebu-gebu, seolah relung jiwanya dipenuhi ‘minyak’ cinta yang disulut ‘api’ asmara, lantas ‘membakar’ diri, dibakar api cinta. Atau seolah ia telah meneguk beberapa gelas ‘anggur’ cinta, lantas tak sadarkan diri dengan apa yang ada disekitarnya, dimabuk cinta. “..wa tarannasa sukara, wa ma hum bisukara,..dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk.” Akan tetapi karena cinta yang memabukkannya.

Seperti pula kata Ibnu Hazem—dalam Serial Cinta Anis Matta—ketika menyindir orang yang sedang dilanda cinta, “ruh seketika menjadi ringan dan lembut, badan seketika jadi wangi, senyum seketika mengembang lebar, benci dan dendam dan angkara murka seketika lenyap dari ruang hati, dan tiba-tiba saja yang bukan penyair jadi penyair, yang tidak bisa bernyanyi jadi penyanyi.” Sungguh, cintanya sudah keterlaluan, terlalu cinta.

Ada pula fenomena lain, ketika manusia mencapai titik kulminasi cintanya, ia tiba-tiba berbalik menjadi bosan dengan cinta dan orang yang dicintainya. Ia tiba-tiba membenci orang yang selama ini dipujanya. Hatinya seolah membeku layaknya es, dingin membisu; mengeras seperti batu tak berair, bahkan batu pun sebenarnya masih dapat mengeluarkan air, “..ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya, ..ada yang terbelah lalu keluarlah mata air.” (QS Al-Baqarah: 74); kasar seolah tak pernah mendapat sentuhan kelembutan. Kata-kata benci keluar dari mulutnya yang dulu pernah bermain kata cinta. Sungguh, bencinya sudah keterlaluan, terlalu benci.

Memang benar, cinta adalah fitrah manusia. Allah menjadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini (hubbus syahawat), salah satunya kepada wanita-wanita. (QS. Ali Imran: 14). Cinta yang demikian, sungguh efeknya luar biasa dahsyat, mampu memberikan energi positif pada diri seseorang. Namun, tidak jarang sebaliknya, menjerumuskan orang pada jurang kelalaian lantas kehancuran.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin pernah berkomentar tentang pengaruh cinta pada diri seseorang, “Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Itulah ketika cinta telah mempengaruhi diri seseorang, pengaruhnya bisa positif. “Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah.” Demikian Ibnu Qayyim melanjutkan komentarnya, dengan sedikit penekanan. Cinta menjadi ujian berat, apalagi bagi mereka yang cintanya keterlaluan, terlalu cinta. Melalaikan lantas menghancurkan.

Itulah fenomena cinta nafsu, hubbus syahawat, ada yang menyenangkan lantas melalaikan dan menghancurkan; ada juga yang menyenangkan lantas mengerikan karena rasa cinta berubah menjadi rasa benci. Entah mengapa bisa demikian, yang pasti Muhammad Rasulullah, pernah mengingatkan kita tentang cinta dan mencintai.

“Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai.” (HR  Tirmidzi,  Baihaqi,  Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari).

Ungkapan sederhana yang menyiratkan makna kesederhanaan, kesederhanaan cinta. Cintailah seseorang dengan sederhana; tak perlu keterlaluan, terlalu cinta, nanti bisa melalaikan dan menghancurkan; sekali lagi tak perlu terlalu cinta, mungkin suatu saat bisa menjadi benci, terlalu benci.

Mencintai seseorang dengan sederhana bukan hanya pada wujudnya, tapi juga pada sebabnya. Sebab yang sederhana, hanya karena Allah, sederhana bukan?

Mencintai dengan cara sederhana, berarti tidak terlalu dibuai pesona fisik semata, akan tetapi mengutamakan apa yang ada di dalam hatinya.

Mencintai dengan cara sederhana, berarti harus siap jika tidak mendapatkan orang yang dicintainya. Di sini berlaku kaidah cinta tak harus memiliki.

Mencintai dengan cara sederhana, berarti tak ada kekhawatiran jika sewaktu-waktu yang dicintainya berpisah dengannya. Yang ada hanya kekhawatiran jika sebab cintanya menghilang dari hati. Ada kerelaan, keridhoan, dan juga keikhlasan.

Itulah kesederhanaan cinta kepada seseorang, karena Allah. Sangat sederhana.

Lantas adakah cinta yang wujudnya tidak sederhana, cinta yang amat sangat, cinta yang luar biasa? Kepada siapakah cinta itu ditujukan? Ada tentunya, cinta yang amat sangat (asyaddu hubban), cinta kepada Allah, syarat bagi orang-orang mukmin (QS. Al-Baqarah: 165). “Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54). Dan sekali lagi, cinta kepada manusia itu sederhana saja, tak perlu keterlaluan.

Jika Sapardi Djoko Damono dalam puisi “Aku Ingin..” mengatakan:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Maka aku pun juga mengatakan:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan makna yang tak sempat disiratkan

Embun kepada matahari yang menjadikannya sirna

Sederhana bukan?

Malang, 10 Januari 2010 Pk. 00.14

-Irfan Andi-

#dikutip dari blog lama : www.erfandi.wordpress.com

Advertisements

6 thoughts on “Kesederhanaan Cinta

  1. Mawardi July 3, 2010 / 3:00 pm

    Ya cinta memang harus disikapi dengan proporsional,jangan sampai menhalangi cinta kepada Allah

    • masamudamasakritis July 4, 2010 / 3:14 pm

      CINTA YG SESUNGGUHNYA ADALAH….. CINTA KARENA ALLAH DAN BENCI KARENA ALLAH…..

  2. Mawardi July 3, 2010 / 3:01 pm

    Jangan lupa cinta yang sesungguhnya

  3. Shafiqah Adia Treest October 13, 2010 / 8:05 am

    ^_^

    subhanallah …
    ending postingannya, begitu menyentuh … hehehe …

    kunjungan pagi …

  4. Erlin Fitriyanti July 15, 2011 / 7:55 pm

    saya tersindir,,pas jaman ES EM PE,kayaknya cimonnya menggebu2..isin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s