Asapnya Berhenti Mengepul

Namanya Pak Rohmat, tetapi biasa dipanggil Pak No. Beliau adalah orang yang biasa bekerja dengan keluarga orang tua saya (lebih tepatnya keluarga kakek saya), baik pekerjaan di sawah maupun pekerjaan-pekerjaan lain di sekitar rumah. Selama bekerja ia selalu ditemani dengan rokok (dan kopi). Selalu ada dan tak pernah ditinggalkan. Keseringannya merokok membuat ibu saya menganggapnya seperti sethom (sebutan untuk cerobong asap di pabrik gula) karena selalu mengepulkan asap. Tak nikmat rasanya jika asap tidak mengepul dari mulut dan hidungnya. Namun, beberapa minggu yang lalu, ibu saya mengatakan bahwa beliau (Pak No) sudah berhenti merokok dan minum kopi. Saya sempat kaget seraya kagum, orang ‘sehebat’ Pak No dalam hal merokok, tiba-tiba berhenti merokok? Saya pun penasaran dengan beliau.

Saat pulang kampung, dan bertemu dengan beliau yang kebetulan membantu panen di sawah orang tua, saya sempat bertanya perihal keputusannya menghentikan kebiasaan merokok. Beliau hanya menjawab yang intinya (dengan bahasa saya): “Ya pokoknya ingin berhenti, bukan karena sakit atau yang lain..” Sebenarnya saya kurang puas dengan jawaban tersebut, karena belum ada pernyataan logis yang menjadi alasan berhenti merokok; seperti karena sakit atau masalah uang. Namun, setelah saya pikir-pikir, jawaban beliau (terlepas benar tidaknya) adalah jawaban yang logis dan luar biasa. “Pokoknya ingin berhenti” menyiratkan makna adanya keinginan yang kuat dari dalam diri untuk tidak lagi merokok; sangat berbeda dengan alasan berhenti merokok karena sakit dan kekurangan uang yang biasanya si perokok (sebenarnya) masih ingin merokok tapi terpaksa berhenti. Ini sebenarnya bisa menjadi pelajaran bagi kita (khususnya perokok), bahwa menghentikan kebiasaan merokok harus dilandasi dengan keinginan yang kuat dari dalam diri untuk berhenti merokok. Tanpa keinginan yang kuat, niscaya sangat sulit menghentikan kebiasaan buruk tersebut, karena kebiasaan merokok sangat berhubungan dengan nafsu. Jika Pak No yang ‘hebat’ merokok saja bisa melakukannya, mengapa anda tidak?? Coba tanyakan pada asap yang bergoyang..

Alangkah indahnya hidup tanpa menyakiti orang lain.

Alangkah indahnya hidup dengan menghargai hidup orang lain.

Alangkah indahnya hidup sehat tanpa asap rokok.

Advertisements

3 thoughts on “Asapnya Berhenti Mengepul

  1. imadelveq July 1, 2010 / 8:48 pm

    yup, saatnya berhenti dhoalimi sesama….
    walau hanya urun asap… hehee.e. ^ ^
    sebab apapun namanya, berapapun beratnya sekali dhalim tetep dhalim….

  2. iftitah August 15, 2010 / 6:08 am

    isinya gag terlalu tapi pesan yang disampaikan bermakna luas dan jelas…ahsan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s